Menuju Generasi Tiada Hari Tanpa Al-Qur'anPosts RSS Comments RSS

Archive for the 'Miftah Faridl' Category

Miftah FaridlDi bulan syawal 1428 H santer terdengar pemberitaan di Indonesia mengenai munculnya aliran sesat Al-Qiyadah yang pemimpinnya mengaku sebagai nabi. Sebelumnya kita juga mendengar mengenai aliran al-qur’an suci yang hanya mengakui Al-Qur’an dan tidak mengakui As-Sunnah sebagai sumber hukum. Sebelumnya lagi kita juga mengenal Ahmadiyah, yang mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah, dan menjadikan pidato-pidatonya yang dikumpulkan dalam At-Tadzkirah sebagai sumber hukum tambahan selain Qur’an dan Sunnah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah ada di Jawa Barat sejak 1955 (dahulu Majelis Ulama, disingkat MU) dan diresmikan secara nasional tahun 1970 sebagai wadah berkumpulnya para ulama dari berbagai organisasi Islam telah beberapa kali mengeluarkan fatwa mengenai aliran sesat yang meresahkan ummat karena menggoyahkan aqidah. Tujuan MUI mengeluarkan fatwa adalah agar aparat keamanan dapat mengambil tindakan hukum sesuai dengan aturan dan perundang-undangan di Indonesia.

Kalau kita melihat perbandingan di zaman khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, di propinsi Yamamah ada juga Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi bahkan didukung penuh oleh orang-orang di daerahnya. Musailamah kemudian dibunuh oleh Wahsyi pada pertempuran Yamamah.

Bila diteliti, kemunculan aliran-aliran tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal: (more…)

Share

Sebelumnya telah dibahas bahwa ciri orang yang berhasil dalam Ramadhan antara lain adalah:
- Mantap dalam shalatnya
- Terbiasa untuk shalat malam
- Senantiasa beristighfar di akhir malam

Ciri keempat adalah memiliki kepedulian sosial, membelanjakan harta di jalan Allah.

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.(QS Al-Baqarah:3)

Kepedulian sosial tersebut hendaknya terwujud bukan hanya di saat lapang, tetapi juga di saat sempit.
(more…)

Share

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 HRamadhan telah berlalu, apakah kita termasuk orang yang berhasil mendapatkan yang dijanjikan Allah di bulan Ramadhan? Apa saja parameter keberhasilan seseorang menjalani Ramadhan? Lihatlah pada kualitas dan kuantitas ibadahnya setelah Ramadhan berakhir. Syawwal adalah bulan pertama setelah Ramadhan, 1 dari 11 bulan tempat kita mengevaluasi kualitas keimanan sesuai dengan tujuan shaum, menjadikan kita orang yang bertaqwa. Orang yang Ramadhannya berhasil tentu makin mantap dalam shalatnya.



Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam
Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)
“. (QS. Adz-Dzariyat 17-18)

Kebiasaan bangun untuk sahur di bulan Ramadhan hendaklah dijadikan kebiasaan bangun untuk mendirikan shalat tahajjud, baik itu yang panjangnya 8 rakaat plus 3 rakaat witir atau pun sekedar 2 rakaat plus 1 rakaat witir. Kemudian dilanjutkan dengan memohon ampunan kepada Allah Swt.
Memohon ampunan dapat diwujudkan dengan dzikir dan istighfar. Misalnya:
Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘adziim, astaghfirullah.

Dzikir dan istighfar hendaklah bukan hanya terucap di mulut, tetapi juga dihayati dari sisi ruhiyah sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang kita ucapkan serta tercermin dalam keseharian. Janganlah kita sok suci karena hanya Allah yang Maha Suci. Janganlah kita gila pujian, karena segala puji hanyalah milik Allah. Sadar maupun tidak, sejak baligh hingga kini, kita banyak bergelimang dosa, untuk itu kita butuh maaf dari sesama serta ampunan hanya dari Allah Swt.

[Resume dari ceramah ba'da Shubuh Ustadz Miftah Faridl di Masjid Ad-Da'wah, Bandung, 23 Oktober 2007]

Share