Posted in Aam Amiruddin, Umum on Oct 24th, 2007
“Biarkan mereka baca Al-Qur’an, tapi jangan sampai mereka paham isi Al-Qur’an. Jangan kalian larang umat Islam untuk shalat, tetapi jangan sampai mereka paham isi shalat”, demikianlah kebijakan yang diterapkan oleh penjajah yang hingga kini masih terasa. Akibatnya, banyak orang Islam yang rajin melantunkan isi Al-Qur’an, namun tidak paham isi Al-Qur’an. Rajin shalat tetapi tidak mengerti isi (red: makna) shalat. Bukan jelek, itu bagus tetapi perlu ditingkatkan.
Tahapan yang seharusnya kita lalui: bacalah Al-Qur’an, pahami maknanya, amalkan isinya, lalu dakwahkan!
[Direkam dari MQTV, ceramah tarawih ustadz Aam Amiruddin di Pusda'i, Bandung, Ramadhan 1428 H]
No Comments »
Posted in Miftah Faridl, Pasca Ramadhan on Oct 24th, 2007
Sebelumnya telah dibahas bahwa ciri orang yang berhasil dalam Ramadhan antara lain adalah:
- Mantap dalam shalatnya
- Terbiasa untuk shalat malam
- Senantiasa beristighfar di akhir malam
Ciri keempat adalah memiliki kepedulian sosial, membelanjakan harta di jalan Allah.

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Al-Baqarah:3)
Kepedulian sosial tersebut hendaknya terwujud bukan hanya di saat lapang, tetapi juga di saat sempit.
Continue Reading »
No Comments »
Posted in Miftah Faridl, Pasca Ramadhan on Oct 24th, 2007
Ramadhan telah berlalu, apakah kita termasuk orang yang berhasil mendapatkan yang dijanjikan Allah di bulan Ramadhan? Apa saja parameter keberhasilan seseorang menjalani Ramadhan? Lihatlah pada kualitas dan kuantitas ibadahnya setelah Ramadhan berakhir. Syawwal adalah bulan pertama setelah Ramadhan, 1 dari 11 bulan tempat kita mengevaluasi kualitas keimanan sesuai dengan tujuan shaum, menjadikan kita orang yang bertaqwa. Orang yang Ramadhannya berhasil tentu makin mantap dalam shalatnya.


Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam
Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)“. (QS. Adz-Dzariyat 17-18)
Kebiasaan bangun untuk sahur di bulan Ramadhan hendaklah dijadikan kebiasaan bangun untuk mendirikan shalat tahajjud, baik itu yang panjangnya 8 rakaat plus 3 rakaat witir atau pun sekedar 2 rakaat plus 1 rakaat witir. Kemudian dilanjutkan dengan memohon ampunan kepada Allah Swt.
Memohon ampunan dapat diwujudkan dengan dzikir dan istighfar. Misalnya:
Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘adziim, astaghfirullah.
Dzikir dan istighfar hendaklah bukan hanya terucap di mulut, tetapi juga dihayati dari sisi ruhiyah sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang kita ucapkan serta tercermin dalam keseharian. Janganlah kita sok suci karena hanya Allah yang Maha Suci. Janganlah kita gila pujian, karena segala puji hanyalah milik Allah. Sadar maupun tidak, sejak baligh hingga kini, kita banyak bergelimang dosa, untuk itu kita butuh maaf dari sesama serta ampunan hanya dari Allah Swt.
[Resume dari ceramah ba'da Shubuh Ustadz Miftah Faridl di Masjid Ad-Da'wah, Bandung, 23 Oktober 2007]
No Comments »
Posted in Membangun Kepribadian Qurani on Oct 11th, 2007
Ketertarikan kita terhadap sesuatu bergantung pada ilmu kita tentang kelebihan/kegunaan sesuatu itu. Meskipun Rasulullah Saw telah memberikan banyak fadha’il Al Qur’an, ketertarikan manusia terhadap Al Qur’an sangat bergantung pada iman dan keyakinannya kepada janji Allah Swt dan Rasul-Nya.
Misalnya, Umar bin Khattab sangat tertarik kepada Al Qur’an (dan Islam) setelah mendengar QS. Thaha. Berbeda halnya dengan Walid bin Mughirah, walaupun ia sangat tertarik dan memuji-muji Al Qur’an, tetap saja pada akhirnya ia tidak beriman, bahkan mengatakan “Itu adalah sihir yang diajarkan kepada Muhammad”.
Oleh karena itu keimanan yang telah Allah karuniakan kepada kita hendaknya senantiasa kita tingkatkan sehingga makin menumbuhkan ketertarikan kita terhadap Al Qur’an.
Fadha’il di dunia:
- Allah Swt mengangkat derajat ahlul Qur’an.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia terdapat Allah.” Ditanyakan “Siapa mereka ya, Rasulullah?” Rasul saw menjawab “Mereka adalah ahlul Qur’an. Mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya” (HR Imam Ahmad)
Continue Reading »
3 Comments »
Posted in Membangun Kepribadian Qurani on Oct 10th, 2007
Kata Pengantar
Kualitas ibadah dan wawasan pikir (tsaqofatul fikr) yang memadai sangat dibutuhkan dalam membentuk pribadi muslim. Maka Al Qur’an sangat diperlukan dalam membentuk hal itu. Oleh karena itu, pemahaman kita tentang Al Qur’an harus integral meliputi kemampuan tilawah (membaca), tahfidz (menghafal), dan tadabbur (memahami).
Proses pembinaan (tarbiyah) yang berkelanjutan (mustamirrah) tidak boleh pernah berhenti dalam merealisasikan kemampuan itu dan tidak boleh terbetik dalam pikiran kita bahwa hal itu sebagai sesuatu yang tidak terjangkau. Mungkin muncul pertanyaan, kapan waktu untuk tilawah, tahfidz, dan tadabbur sedangkan tugas kita begitu banyak dan menuntut keharusan untuk dilaksanakan?
Continue Reading »
1 Comment »




“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
Continue Reading »
20 Comments »

“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk hati mereka karen keingkaran mereka. Maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS Al-Baqarah [2]:88)
Sikap suka memvonis diri bertolak belakang dengan tawadlu untuk membuka diri terhadap dakwah. Ketika dakwah Rasulullah ditanggapi kaum Yahudi dengan “Saya tidak mungkin mampu menerima da’wah ini, karena hati saya sudah tertutup” berarti mereka bukan saja jauh dari hidayah Al-Qur’an bahkan Allah Swt melaknat sikap kufur tersebut dan mereka jauh untuk menjadi manusia yang beriman.
Continue Reading »
2 Comments »


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Ahqaf [46]:13-14)
Bagi pribadi yang sedang mendekatkan diri dengan Al-Qur’an misalnya bertekad menjadi hafidz 30 juz, godaan yang sering menggelayuti adalah kekhawatiran terhadap masa depan, seperti maisyah, walimah, serta pertanyaan-pertanyaan bernada negatif yang lain. Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada rasa takut dan sedhi bagi manusia yang berada di jalan Allah Swt. Ketika mau menghafal, motivasinya harus jelas dan motivasi itu harus terus diyakini.
Continue Reading »
5 Comments »

“Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS Al-Insan [76]:26)
Melatih diri untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an membutuhkan upaya-upaya yang ‘ekstrim’. Menurut kita sangat berat, padahal hal tersebut sudah biasa dilakukan para salafush shalih. Contohnya menghafal Al-Qur’an sebanyak enam ribu ayat dihafal luar kepala.
Contoh amalan lain yang dianggap ekstrim oleh manusia sekarang karena jarang dilakukan adalah:
Continue Reading »
4 Comments »