FPI dan Laskarnya, Korban Perang Intelektual Melawan JIL
Posted in Ghazwul Fikr, Penyakit Hati, Umum on Jun 6th, 2008 24 Comments »
Siapakah yang meraup keuntungan dengan adanya wacana pembubaran FPI?
1. Pelaku maksiat, mulai dari bandar narkoba, pengusaha perjudian, pedagang miras, pemilik warung remang-remang dan protitusi terselubung, empunya majalah asusila, hingga pembuat karikatur pelecehan Rasulullah SAW.
2. Pemerintah, karena berhasil mengalihkan demonstrasi dan perhatian masyarakat mengenai melonjaknya harga barang akibat kenaikan BBM.
3. Kaum islam liberal, karena satpamnya berkurang. Sayang sekali, mereka adalah anak-anak para ulama yang jauh dari hidayah Allah SWT. Orang tua mereka sibuk mengurusi pesantren namun tidak menyadari tingkah polah anak-anak mereka yang menjadi musuh Allah SWT dan mengajak orang lain untuk tidak mengindahkan aturan Allah SWT.
“Kalau mau ke neraka sendiri aja dong, gak usah ngajak-ngajak orang lain. Jangan sok membela kebebasan beragama kalau Anda sendiri tidak menjalankan syariat.“, demikian komentar panas kami (BinaMuslim) mengenai kehadiran AKKBB, gerombolan JIL dan kawan-kawannya yang sudah nyata sesatnya, tapi mampu “mengendalikan” ucapan dan tindakan SBY tanpa disadarinya. Motor penggerak utama dari AKKBB adalah orang-orang JIL (sumber: http://nongmahmada.blogspot.com/2008/06/iklan-petisi-kita.html ).
[Bagian berikut dikutip dari http://suburraya.multiply.com/journal/item/6/Bahaya_JIL_Jaringan_Islam_Liberal ]
Agenda dan Gagasan Firqah Liberal
Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi AsySyaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal: (more…)
Bagaimana mendefinisikan pendidikan (tarbiyah) dalam tiga kata? Saya yakin, kesulitan akan menanti anda bila anda mencoba mencari definisi pendidikan dengan kualifikasi seperti tadi dalam berbagai buku ilmu pendidikan. Saya yakin itu. Mengapa ?
Tahun 2004, Ayat-Ayat Cinta hanyalah rangkaian cerita bersambung yang hadir hampir setiap hari di surat kabar Republika. Di dalamnya ada Fahri, Maria, Aisha, Nurul dan Noura. Gaya bahasa serta lingkungan ceritanya yang sangat Islami tentu menarik perhatian para ikhwah, terutama yang sedang bersemangat mendalami Al-Qur’an, apalagi yang belum menemukan pasangan hidupnya.
Film Ayat-Ayat Cinta telah disajikan kepada publik, sound track-nya pun terdengar di setiap kesempatan. Namun apa yang disajikan di dalam film tersebut masih sangat jauh dari novel aslinya. Dari cuplikan-cuplikannya, dapat ditebak bahwa sang produser lebih ingin menguatkan ‘cinta’ daripada ‘ayat’. Penonton mungkin dengan mudahnya akan menuduh bahwa penulis skenario dan sutradara lebih mengedepankan nuansa percintaan karena nafsu, dibandingkan kecintaan para tokoh utamanya kepada Al-Qur’an serta percintaan mereka yang didasari kecintaan kepada Allah SWT.
Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy, penulis novel) dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik. ‘Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu.’, kata ibuku yang terus menerus terngiang. (
Bagi yang memiliki rekan yang tertarik dengan Al-Qur’an namun kurang mengerti Bahasa Arab atau Bahasa Indonesia, mungkin situs 


Anda punya uang kertas atau uang logam di saku? Berapa nilainya? Ya, nilainya adalah angka yang tertera pada uang itu sendiri. Siapa yang menjamin atau menentukan nilainya? Penjaminnya adalah bank sentral sebagai representasi negara yang menerbitkan uang tersebut.
Di bulan syawal 1428 H santer terdengar pemberitaan di Indonesia mengenai munculnya aliran sesat Al-Qiyadah yang pemimpinnya mengaku sebagai nabi. Sebelumnya kita juga mendengar mengenai aliran al-qur’an suci yang hanya mengakui Al-Qur’an dan tidak mengakui As-Sunnah sebagai sumber hukum. Sebelumnya lagi kita juga mengenal Ahmadiyah, yang mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah, dan menjadikan pidato-pidatonya yang dikumpulkan dalam At-Tadzkirah sebagai sumber hukum tambahan selain Qur’an dan Sunnah.
