<?xml version="1.0" encoding="UNICODE-1-1-UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>binaMUSLIM &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://www.binamuslim.com/category/ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.binamuslim.com</link>
	<description>Menuju Generasi Tiada Hari Tanpa Al-Qur'an</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Jul 2010 23:22:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bulan Rajab, Saatnya Menyambut Ramadhan</title>
		<link>http://www.binamuslim.com/2010/07/03/bulan-rajab-saatnya-menyambut-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.binamuslim.com/2010/07/03/bulan-rajab-saatnya-menyambut-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 17:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jayadin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Rajab]]></category>
		<category><![CDATA[Sambut Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.binamuslim.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Rajab adalah bulan yang tepat untuk menyambut Ramadhan, adapun bulan Sya’ban adalah bulan yang disediakan bagi kita untuk belajar mengisi Ramadhan.

Artinya:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Rajab adalah bulan yang tepat untuk menyambut Ramadhan, adapun bulan Sya’ban adalah bulan yang disediakan bagi kita untuk belajar mengisi Ramadhan.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://web1hari.com/file/gif/9/9_36.gif" alt="" width="580" height="213" /></p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. </em><strong>(Q.S. At-Taubah: 36)</strong></p>
<p>Bulan Rajab adalah bulan yang istimewa, karena merupakan salah satu dari empat bulan yang termasuk bulan haram, selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Di dalam keempat bulan tersebut, setiap kita dilarang menganiaya diri dengan tidak berbuat dzalim, baik berbuat dzalim kepada diri sendiri alias bermaksiat, ataupun berbuat dzalim kepada orang lain. Kita perlu memerangi kaum musyrikin hanya jika kita diserang lebih dahulu. Apabila itu semua kita patuhi, Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kebersamaan dengan-Nya.</p>
<p>Bentuk kebersamaan dengan Allah bagi orang yang bertakwa dapat berupa solusi permasalahan yang dapat dengan cepat diperoleh, serta rezeki yang tidak disangka-sangka. Rezeki itu tidak hanya berupa materi maupun harta. Rezeki itu dapat berupa kemauan untuk mendengar atau membaca Al-Qur’an, ilmu yang bermanfaat, keinginan mengikuti ajaran yang benar serta dorongan untuk menjauhi yang salah.</p>
<p>Mengenai interaksi dengan Al-Qur’an, jangan sampai ada perasaan terepotkan (<em>haraj</em>) oleh Al Qur’an. Rutinitas bersama Al-Qur’an akan kita temukan bila fungsi Al-Qur’an sudah terdapat dalam diri kita. Betapa ruginya kita bila fungsi Al-Qur’an yang kita peroleh hanya dari pahala bacaan semata, fungsi yang lain belum dioptimalkan, antara lain dipahami artinya, diamalkan isinya, serta dijadikan sebagai landasan berpikir. Alangkah baiknya bila jiwa kita terwarnai oleh Al-Qur’an, sebagaimana Rasulullah SAW.</p>
<p><strong>Menyambut Ramadhan ala Rasulullah SAW</strong></p>
<p>Dalam menyambut Ramadhan, ada 4 karakteristik Rasulullah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT yang perlu kita teladani:<span id="more-209"></span></p>
<ol>
<li>Selalu terpadukan antara wajib dan sunnah</li>
<p>Baik itu shalat, shaum, zakat/shadaqah, haji/umrah Rasulullah tidak pernah meninggalkan yang wajib, dan selalu melengkapinya dengan amalan sunnah. Amalan wajib dan sunnah selalu berpasangan, amalan sunnah selalu hadir melengkapi yang wajib. Sudahkah kita seperti itu?</p>
<li> Berlangsung      dalam waktu yg panjang, kontinyu,      pengecualiannya sakit atau safar<br />
Konsistensi Rasululllah SAW dalam pelaksanaan ibadah benar-benar berkesinambungan, kecuali dalam keadaan sakit atau perjalanan jauh (<em>safar</em>). Dengan mencontoh Rasulullah SAW, tidak ada alasan bagi kita untuk menurunkan kualitas dan kuantitas amal dengan disebabkan karena kini telah berkeluarga, atau karena saat ini mengemban jabatan duniawi yang begitu menyibukkan.<br />
Nabi SAW pernah ditanya : “Apakah amalan yang paling dicintai Allah?”. Beliau menjawab : “Amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan walaupun sedikit”. (HR Bukhori).Ummul Mu’minin Aisyah RA menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling konsisten dalam melakukan amal ibadah. (HR Muslim).</li>
<li>Memiliki      spesialisasi (<em>tamayyuz</em>)</li>
<p>Bilal bin Rabah sangat terkenal dengan kebiasaannya shalat 2 rakaat setiap kali selesai berwudhu. Abdurrrahman bin ‘Auf sangat terkenal dengan kedermawanannya dalam setiap kesempatan. Mayoritas sahabat juga memiliki spesialisasi menjadi penghafal Al-Qur’an. Walaupun ada sahabat yang hafalannya sedikit, tetapi dia memiliki spesialisasi paling banyak menghancurkan musuh Allah di medan peperangan. Rasulullah SAW adalah tauladan dalam setiap ibadah yang dicontohkannya. Alangkah baiknya jika kita memiliki ibadah unggulan yang dapat menjadikan kita ahli surga di akhirat kelak.</p>
<li>Prinsip qadha, mengganti dengan amal lain, atau melaksanakannya di waktu yang lain<br />
Apabila Rasulullah SAW melewatkan sebuah amalan karena sibuk atau lupa, maka Rasulullah menambahkan kuantitas amalannya pada kesempatan yang lain sebagai pengganti amalan yang sebelumnya terlewat. Contoh lain dari prinsip qadha itu juga dapat kita buat berupa niat pribadi untuk berinfak tambahan untuk setiap shalat fardhu yang tidak kita (pria muslim) lakukan berjamaah di masjid. Tentu saja pahala shalat berjamaah itu tidak sebanding dengan nilai uang yang kita infakkan, tetapi berinfak tambahan itu adalah lebih baik daripada tidak melakukan sesuatu sama sekali, bukan hanya demi pahala dari Allah SWT, tetapi juga demi membangun kedisiplinan beribadah.</li>
</ol>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.binamuslim.com/images/habiburrahman_ptdi_ustadz_abdul_aziz1.jpg" alt="" width="303" height="198" /></p>
<p>[<strong>Dirangkum dari ceramah ba’da isya, Ustadz ‘Abdul ‘Aziz ‘Abdur Ra’uf, Al Hafidz, Lc, pada acara Mabit di Masjid Habiburrahman, PTDI, Bandung, 14 Rajab 1431H / 26 Juni 2010</strong>]</p>
<p style="white-space:nowrap"><img style="border:0px" src="http://tarpipe.com/img/tarpipe.png" />&nbsp;<a target="_blank" href="http://tarpipe.com/share/?t=Bulan+Rajab%2C+Saatnya+Menyambut+Ramadhan&u=http%3A%2F%2Fwww.binamuslim.com%2F2010%2F07%2F03%2Fbulan-rajab-saatnya-menyambut-ramadhan.html&b=Reading %22Bulan+Rajab%2C+Saatnya+Menyambut+Ramadhan%22">Share now!</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.binamuslim.com/2010/07/03/bulan-rajab-saatnya-menyambut-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Dreaming Start Action</title>
		<link>http://www.binamuslim.com/2009/09/14/stop-dreaming-start-action.html</link>
		<comments>http://www.binamuslim.com/2009/09/14/stop-dreaming-start-action.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 01:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jayadin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ghazwul Fikr]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tips & Tricks]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[3M]]></category>
		<category><![CDATA[Aa Gym]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Durrotul Muqoffah]]></category>
		<category><![CDATA[Generasi Qur'ani]]></category>
		<category><![CDATA[hafidz]]></category>
		<category><![CDATA[hafidzah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden RI]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Stop Dreaming Start Action]]></category>
		<category><![CDATA[Tiada hari tanpa Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ustadz Yusuf Mansur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.binamuslim.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Ust. Yusuf Mansur: SBY Pilih Menteri dari Penghafal Al-Qur&#8217;an

Siapa yang tak kenal Boediono, calon Wakil Presiden RI terpilih yang sebelum Pilpres Juli 2009 lalu begitu ramai dibicarakan mengenai ke-Islamannya. Namun seakan menepis keraguan itu semua, sesuatu yang di luar dugaan telah terjadi, atas izin Allah SWT. Sepekan sebelum Ramadhan, Boediono menyetor hafalan surah Al-Kahfi dengan lancar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Ust. Yusuf Mansur: SBY Pilih Menteri dari Penghafal Al-Qur&#8217;an</h2>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-162" title="sby-boediono" src="http://www.binamuslim.com/wp-content/uploads/2009/09/sby-boediono-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /><br />
Siapa yang tak kenal Boediono, calon Wakil Presiden RI terpilih yang sebelum Pilpres Juli 2009 lalu begitu ramai dibicarakan mengenai ke-Islamannya. Namun seakan menepis keraguan itu semua, sesuatu yang di luar dugaan telah terjadi, atas izin Allah SWT. Sepekan sebelum Ramadhan, Boediono menyetor hafalan surah Al-Kahfi dengan lancar dan fasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, demikian tutur Ustadz Yusuf Mansur pada ceramah ba&#8217;da Shubuh MQFM Bandung, 24 Ramadhan 1430H.</p>
<p>Tak lama kemudian, Presiden SBY yang juga menyaksikan setoran hafalan tersebut mendekati Ustadz Yusuf Mansur. Beliau mengatakan bahwa ia akan memilih para penghafal Al-Qur&#8217;an sebagai menteri di kabinet barunya. Subhanallah, insya Allah para menteri di republik ini adalah penghafal Qur&#8217;an. Sebagai pendengar siaran <em>live</em> itu, rasa haru tentu tak terbendung, air mata tercurah atas berita bahagia tersebut.<span id="more-157"></span></p>
<p>Tiba-tiba Ustadz Yusuf Mansur terbangun dari tidurnya, dan tersadarlah ia bahwa semua itu hanya penghias tidur belaka. Saat cerita ini disampaikan, sontak pendengar yang tadinya terharu serentak berubah emosinya menjadi tawa, sambil menelan kekecewaan bahwa cerita itu tak lebih dari cuplikan mimpi.</p>
<p>Ceramah ba&#8217;da Shubuh MQFM tersebut disiarkan langsung dari Daarut Tauhiid, pesantren binaan Aa Gym di Bandung. Ceramah yang juga di-relay oleh puluhan stasiun radio di tanah air tersebut juga memperdengarkan hafalan Qur&#8217;an nan anggun yang dilantunkan oleh Durratul Muqoffah, hafidzah cilik yang masih duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah.</p>
<p>Ia hadir ditemani ayahnya, Ustadz Sulaiman, seorang hafidz. Karena ditanya oleh Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Sulaiman berkisah bahwa ia memiliki 7 anak yang semuanya insya Allah disiapkan untuk menjadi penghafal Al-Qur&#8217;an. Sejak usia 3,5 tahun anaknya mulai diajar membaca Al-Qur&#8217;an, usia 4 tahun sudah lancar, dan usia 5 tahun sudah mulai meniru ibunya yang juga hafidzah, untuk melantunkan ayat suci Al-Qur&#8217;an tanpa memegang mushaf.</p>
<p>Ustadz Yusuf Mansur juga menimpali, ia baru saja memberikan kata pengantar bagi sebuah buku baru berjudul 11 Bintang. Penulis buku tersebut juga merupakan kepala keluarga, yang mulai dari Ayah, Ibu dan ke-11 anaknya semuanya adalah hafidz dan hafidzah, istilah bahasa Arab bagi para penghafal Al-Qur&#8217;an. Salah satu anak dari keluarga tersebut bersekolah di Pesantren Daarul Qur&#8217;an yang dibina oleh Ustadz Yusuf Mansur.</p>
<p>Subhanallah, semoga Allah SWT memperbanyak generasi Qur&#8217;ani di negeri kita tercinta dan menjadikan kita dan keturunan kita adalah salah satu di antaranya. Malu kita kepada Palestina yang tiada henti dari peperangan, namun pada perayaan tahun baru lalu mewisuda 3000 penghafal Qur&#8217;an, bahkan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya adalah juga seorang hafidz. Sudah saatnya kita <em>stop dreaming start action</em>.</p>
<p>Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Yusuf Mansur juga berharap bahwa di tahun 2024 nanti, para pemimpin dan calon pemimpin negara kita, siapapun orangnya adalah berasal dari generasi penghafal Al-Qur&#8217;an. Yah, sudah ada sedikit tanda kemajuan, calon Wakil Presiden kita sudah setor hafalan Al-Kahfi, walaupun masih di dalam mimpi Ustadz Yusuf Mansur.</p>
<h2>Stop Dreaming Start Action</h2>
<p>Ya, stop dreaming start action. Dari mimpi semua bermula, tapi tanpa usaha mimpi itu tiada guna. Kalau kita kombinasikan konsep stop dreaming start action dengan jurus 3M dari Aa Gym, berikut ini langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut.</p>
<p>Pertama, <strong>mulai dari diri sendiri, stop dreaming start action,</strong> marilah kita:</p>
<ul>
<li>mendeklarasikan niat dan senantiasa <a href="http://www.binamuslim.com/category/motivasi-berinteraksi-dengan-al-quran" target="_blank">memotivasi diri untuk menghafal Al-Qur&#8217;an</a></li>
<li>mencari komunitas penghafal Al-Qur&#8217;an untuk menumbuhkan iklim kompetisi dalam kelompok</li>
<li>tetap istiqamah dalam menempuh cara menggapai tujuan menjadi penghafal Al-Qur&#8217;an</li>
</ul>
<p>Yang kedua, <strong>mulailah saat ini, stop dreaming start action,</strong> marilah kita:</p>
<ul>
<li>menyediakan slot khusus untuk agenda harian dan pekanan dalam menghafal Al-Qur&#8217;an</li>
<li>menyetorkan hafalan kepada Ustadz/Ustadzah/Murabbi kita setiap pekan secara teratur</li>
<li>menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai <a href="http://www.binamuslim.com/download-gratis" target="_blank">hiburan dan bacaan utama</a></li>
</ul>
<p>Yang ketiga, <strong>mulailah dari hal-hal yang kecil dan sepele, stop dreaming start action,</strong> marilah kita:</p>
<ul>
<li>mengurangi tidur dan waktu luang yang terbuang utamanya saat berada di ruang tunggu atau perjalanan</li>
<li>mengurangi menonton televisi, mendengar radio dan browsing internet di luar agenda</li>
<li>menghindari <em>overload</em> alunan musik, syair lagu dan cerita film yang menyesakkan memori kita</li>
</ul>
<p>Sambil menghafalkan Al-Qur&#8217;an, insya Allah itu akan lebih memudahkan kita untuk mengerti makna Al-Qur&#8217;an sambil berusaha mengamalkannya sebagaimana teladan kita Rasulullah SAW yang mampu menjadi Al-Qur&#8217;an yang hidup. Semoga Allah meridhai rencana dan upaya kita untuk menjadi generasi Qur&#8217;ani yang tiada hari tanpa Al-Qur&#8217;an, amin, ya Rabbal &#8216;Alamin. <em></em></p>
<p><em>Stop dreaming start action</em>, Allah SWT yang menentukan hasilnya, tetapi kita bebas memilih jalan yang mana yang akan kita tempuh. Bangunlah dari mimpi, gapai tujuanmu dengan langkah nyata. <em>Stop dreaming start action.</em></p>
<p style="white-space:nowrap"><img style="border:0px" src="http://tarpipe.com/img/tarpipe.png" />&nbsp;<a target="_blank" href="http://tarpipe.com/share/?t=Stop+Dreaming+Start+Action&u=http%3A%2F%2Fwww.binamuslim.com%2F2009%2F09%2F14%2Fstop-dreaming-start-action.html&b=Reading %22Stop+Dreaming+Start+Action%22">Share now!</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.binamuslim.com/2009/09/14/stop-dreaming-start-action.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Menyambut Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.binamuslim.com/2009/08/18/salah-kaprah-menyambut-bulan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.binamuslim.com/2009/08/18/salah-kaprah-menyambut-bulan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 16:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jayadin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.binamuslim.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[
Tema ini sengaja kami bahas, dengan harapan bisa lebih memurnikan niat dan aktivitas selama bulan Ramadhan tahun ini. Penulis menyadari bahwa sebenarnya kita sudah mengerti dan mengamalkan ibadah Ramadhan ini selama bertahun-tahun, namun ada baiknya kita review sejenak hal-hal yang tidak relevan dengan ibadah Ramadhan. Ibarat mau makan, mari kita singkirkan dulu hal-hal yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://binamuslim.com/images/ramadhan.jpg" alt="" /></p>
<p>Tema ini sengaja kami bahas, dengan harapan bisa lebih memurnikan niat dan aktivitas selama bulan Ramadhan tahun ini. Penulis menyadari bahwa sebenarnya kita sudah mengerti dan mengamalkan ibadah Ramadhan ini selama bertahun-tahun, namun ada baiknya kita review sejenak hal-hal yang tidak relevan dengan ibadah Ramadhan. Ibarat mau makan, mari kita singkirkan dulu hal-hal yang tidak layak untuk dimakan misalnya kemasan plastik, bungkus dan lain-lain, agar kita benar-benar dapat merasakan nikmatnya ibadah Ramadhan. Berikut beberapa kekeliruan yang sering kita jumpai atau dilakukan terkait dengan ibadah Ramadhan.</p>
<p>1. Istilah Bulan Suci Ramadhan</p>
<p>Kita sering mendengar istilah Bulan Suci Ramadhan. Istilah ‘bulan suci’ memang ada dalam Al-Quran surat At-Taubah 5, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu…”. Yang dimaksud dengan bulan suci atau bulan haram dalam ayat ini ialah bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan ramadhan bukanlah bulan suci seperti disebut dalam ayat tersebut. Jadi istilah bulan suci Ramadhan sebenarnya kurang tepat digunakan.</p>
<p>Istilah yang cocok dan boleh dipadankan ialah bulan ibadah, bulan barakah dan bulan magfirah. <span id="more-152"></span>Di antara ketiga istilah ini yang paling tepat digunakan ialah bulan ibadah, karena tidak ada status shaum yang menjadi rukun islam ketiga selain shaum di bulan Ramadhan. Untuk memastikan bahwa ibadah shaum yang rukun Islam ketiga ini semata-mata hanya di bulan Ramadhan, secara syari’at diharamkan berpuasa pada tanggal 30 Sya&#8217;ban dan 1 Syawal.</p>
<p>Status ibadah Ramadhan bukanlah dihitung harian, melainkan penuh selama satu bulan siang dan malam. Di siang hari kita melakukan shiyaam dan di malam hari melakukan qiyaam. Itulah yang dimaksud dengan shiyaamu Ramadhan dan qiyaamu Ramadhan. Jadi sepatutnya kita menggunakan waktu selama satu bulan Ramadhan itu dengan ibadah siang dan malam tidak sekedar puasa di siang hari saja.</p>
<p>2. Shalat 5 Waktu Berjamaah</p>
<p>Nabi Muhammad SAW seumur hidupnya selalu melaksanakan shalat berjamaah lima waktu di mesjid kecuali kalau ada perjalanan ke luar Madinah. Maka di bulan Ramadhan sudah seharusnya mesjid terisi penuh setiap waktu shalat, tidak hanya saat tarawih saja. Menjadi salah kaprah, kalau kita menganggap shalat tarawih lebih utama dibandingkan shalat isya berjamaah. Untuk itu marilah kita bulatkan niat dan tekad untuk selalu shalat berjamaah lima waktu di mesjid. Di manapun kita berada kalau sudah saatnya adzan, maka carilah mesjid untuk shalat berjamaah.</p>
<p>Rasul sangat menekankan shalat berjamaah ini, beliau bahkan mau membakar rumah yang penghuninya tidak shalat berjamaah. Begitupun saat seorang sahabat yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) minta dispensasi agar tidak shalat berjamaah, Nabi tetap menyuruhnya untuk shalat berjamaah di mesjid.</p>
<p>Selain shalat berjamaah lima waktu, wujud nyata qiyaam Ramadhan yang harus kita bangun dan dilakukan secara proaktif yaitu sebagai berikut: khatam al-Quran, i&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir serta zakat dan sedekah.</p>
<p>3. Ngabuburit</p>
<p>Sudah menjadi tradisi di Indonesia, seseorang melaksanakan aktivitas ngabuburit untuk menunggu datangnya adzan maghrib dengan kegiatan yang kurang berpahala. Padahal yang paling utama untuk menunggu adzan adalah membaca al-Quran, berdzikir, dan ibadah lainnya di mesjid, sehingga bisa shalat maghrib berjamaah.</p>
<p>4. Berpuasa Tanpa Menutup Aurat</p>
<p>Khusus bagi kaum perempuan, dengan sadar kita selalu menutup aurat saat melaksanakan ibadah shalat, namun tidak sadar saat berpuasa tidak menutup aurat. Status ibadah shaum pada dasarnya sama dengan ibadah shalat, sehingga orang yang melakukan shaum wajib menutup aurat.</p>
<p>5. Undangan Buka Puasa di Rumah Pejabat (Hotel dan Restoran)</p>
<p>Undangan buka puasa di rumah pejabat atau hotel pada hakikatnya bertentangan dengan semangat ramadhan sebagai bulan ibadah dan bulan peduli faqir miskin. Saat buka bersama dilakukan di hotel, maka kemungkinan besar shalat maghribnya bukan di mesjid sehingga rumah Allah menjadi sepi.</p>
<p>Berdasarkan hal ini, bukan berarti kita tidak boleh melaksanakan buka puasa, namun alangkah baiknya kalau kita melaksanakannya dengan tidak bertentangan dengan sunnah yaitu sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Ta’jil dilaksanakan di mesjid terdekat rumah pengundang</li>
<li>Shalat maghrib dan isya dilaksanakan dengan berjamaah di mesjid terdekat</li>
<li>Undangan mencakup golongan fakir dan miskin</li>
<li>Makanan tidak mewah dan tidak berlebihan</li>
</ul>
<p>6. Bedug, Petasan dan Ketupat</p>
<p>Bedug bukanlah berasal dari tradisi islam dan tidak ada hubungan syariah dengan ibadah Islam, ia hanya tradisi semata. Sebenarnya bedug bermanfaat bagi umat islam yang hidup pada zaman belum ada jam dan pengeras suara. Kalau keberadaan bedug hanya sebagai hiasan mesjid maka boleh-boleh saja, namun kalau bedug dipercaya harus menjadi bagian dari kesempurnaan mesjid maka itu sudah termasuk perkara bid’ah.</p>
<p>Kalau melihat kuil-kuil yang ada di Thailand, maka akan kita jumpai bedug-bedug yang sama bentuknya dengan mesjid Indonesia. Jadi sebenarnya bedug di Indonesia sudah ada sejak jaman Budha sebelum Islam datang.</p>
<p>Petasan berasal dari tradisi china dan tidak relevan dengan ibadah dan syariah Islam. Namun petasan ada sifat yang bertentangan dengan Islam yakni merusak, mengganggu orang lain, riya atau ujub, tabdzir (mubadzir), dan israf (berlebihan).</p>
<p>Ketupat berasal dari tradisi lokal yang netral dan tidak dilarang syariah. Namun kita harus hati-hati kalau ketupat sudah masuk wilayah pemujaan maka ia menjadi bertentangan dengan tauhid Islam, misalnya gerebegan dan sekatenan. Dalam kegiatan ini seseorang mempercayai adanya berkah di dalam ketupat itu, bahkan ia rela berebut untuk mendapatinya.</p>
<p><em>(Dikutip dari Pengajian Ahad, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 8 Agustus 2009, Narasumber: Ust. A. Chalil Ridwan Lc.)</em></p>
<p>(Disalin dari <a href="http://www.nasehatislam.com/?p=133" target="_blank">Nasehat Islam</a> dengan sedikit perbaikan teks)</p>
<p style="white-space:nowrap"><img style="border:0px" src="http://tarpipe.com/img/tarpipe.png" />&nbsp;<a target="_blank" href="http://tarpipe.com/share/?t=Salah+Kaprah+Menyambut+Bulan+Ramadhan&u=http%3A%2F%2Fwww.binamuslim.com%2F2009%2F08%2F18%2Fsalah-kaprah-menyambut-bulan-ramadhan.html&b=Reading %22Salah+Kaprah+Menyambut+Bulan+Ramadhan%22">Share now!</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.binamuslim.com/2009/08/18/salah-kaprah-menyambut-bulan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
