Boediono: “Om Swastiastu”

Sabtu sore 4 Juli 2009 adalah hari yang menyebalkan untuk menonton TV. Trans7, TvOne, SCTV dan MetroTV menyiarkan siaran langsung acara perusakan rumput GBK, Senayan oleh pendukung SBY-Boediono. Sambil pindah-pindah saluran, sampailah pada pidato Boediono. Cukup mencengangkan. Selain mengucapkan salam sebagai muslim (dan salam sejahtera), Boediono juga mengucapkan salam sebagai orang Hindu, “Om Swastiastu”.
Salam (milik) orang Hindu tersebut sangat jarang digunakan pada acara formal, dalam konteks kampanye maupun kenegaraan. Kalau Boediono tidak tahu arti dan maknanya, artinya beliau professor yang kurang pandai. Secara sadar, ia berani mengatakan salam Hindu tersebut di depan massa koalisi yang suara mayoritasnya dari partai-partai Islam.
Mengapa salam menjadi begitu penting untuk dipersoalkan oleh seorang muslim? Salam tersebut punya makna yang sangat dalam. Dari situs web www.pustakahindu.info dapat dipahami bahwa salam “Om Swastiastu” mengandung arti “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”. Dengan mengucapkan salam tersebut, telah ada pengakuan terhadap Sang Hyang Widi sebagai Tuhan, padahal seorang muslim tidak patut mengakui adanya Tuhan selain Allah SWT. Hal ini tidak semestinya dilakukan seorang muslim, karena menyentuh sisi aqidah, sama halnya dengan dilarangnya muslim untuk mengucapkan selamat hari raya agama lain.
Walaupun SBY menyatakan bahwa Boediono adalah muslim yang baik, ada beberapa hal yang patut diragukan dari keislaman Boediono selain salam Hindu tadi.

  1. Rukun Islam yang pertama adalah syahadat, isinya menyangkut keyakinan kepada Yang Maha Kuasa, mengerdilkan selain-Nya, dan pengakuan bahwa Muhammad SAW adalah Rasul-Nya. Ketika ditanya tentang agama pada suatu wawancara/debat sebagai cawapres, Boediono menempatkan agama di atas untuk dijunjung, padahal seharusnya di bawah sebagai dasar/pondasi/landasan berpijak dan bertindak. Ini adalah pertanda pemahaman yang kurang dalam memposisikan Islam sebagai agama.
  2. Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih). Ali bin Abu Thalib berkata, ”Aku melihat Rasulullah SAW memegang sutera di tangan kanan dan emas di tangan kiri seraya bersabda,”Keduanya ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (HR Abu Daud dengan sanad hasan). Saat siaran langsung deklarasi SBY-Boediono 15 Mei 2009 di Bandung, maupun saat kampanye 4 Juli 2009 di Jakarta, Boediono terlihat menggunakan cincin berwarna emas di jari tengah tangan kanannya. Bila ternyata bahannya bukan emas, tetap saja ia menyerupai kaum yang menggunakan emas. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”. – Dari Ibn Umar .ra dari Rasulullah SAW.
    Orang menjadi terbiasa melakukan yang diharamkan Allah bisa karena 2 hal. Pertama, belum tahu karena pemahaman agamanya kurang, rekan-rekannya tidak mengingatkan karena mereka sama-sama melakukan perilaku yang diharamkan. Kedua, sudah tahu tetapi menganggap remeh hal tersebut, imannya sulit untuk diperkuat.
  3. Kawan-kawan dekat Boediono yang mendampinginya berkampanye ke mana-mana adalah musuh Islam, khususnya para ulama. Mereka adalah para pemikir islam liberal alias JIL, yang sebagai lembaga formal kadang menamakan dirinya Freedom Institute. Di Freedom Institute, Rizal Mallarangeng dibantu oleh barisan tokoh JIL, seperti Luthfi Assyaukanie (deputi direktur), Saiful Mujani (direktur riset), Hamid Basyaib (direktur program), Ahmad Sahal (Associates), Ulil Abshar Abdalla (Associates), dan Nong Darol Mahmada. Associates Freedom lainnya adalah Andi Mallarangeng, M. Chatib Basri, Mohamad Iksan, dan Nirwan Dewanto. Kericuhan AKKBB di Monas adalah ulah JIL yang begitu dibela SBY, dan menjadikan mereka seakan-akan menjadi korban. Sedangkan persoalan intinya, yaitu pembubaran Ahmadiyah yang sudah nyata sesatnya malah tidak diacuhkan, tidak ada ketegasan presiden untuk melarangnya. Apakah Boediono tidak tahu, atau justru telah menjadi bagian dari JIL juga?

Dokter, polisi dan tentara adalah profesi yang dapat dikenali dari seragamnya. Adapun identitas dan karakteristik diri kita dikenali dari perbuatan, sikap dan perkataan serta siapa rekan-rekan dalam keseharian kita. Sudahkah kita mampu menunjukkan identitas keislaman kita sehingga orang lain tidak memiliki keraguan? Mari kita berbuat yang terbaik, dan semoga Indonesia mendapatkan yang terbaik pula.
Tulisan ini merupakan kompilasi dari apa yang tersaji secara umum di media massa, tidak mewakili pernyataan organisasi manapun.
Pranala acuan:

Share

Related posts

14 Thoughts to “Boediono: “Om Swastiastu””

  1. assalamu’alaikum
    setelah membaca tulisan diatas semakin saya bingung dengan persoalan pemilihan presiden fokus saja pada wapresnya yaitu budiono. pada saat kampanye menjelang pilpres kenapa semua partai islam pada kenyataannya kompak mendukung pasangan sby-budiono, budiono yang nyata nyata telah di duga sebagai pendukung JIL dan negara liberal oleh para ustad ustad kita. bagaimana penjelasannya sesungguhnya?

  2. taufik siregar

    Mohon dapat dikaji dari Al Baqoroh 63

  3. taufik siregar

    Ralat mohon dikaji dapat dari Al Baqoroh 62

  4. Muhammad Taufik

    Hyang Widhi itu artinya “Yang Esa” demikian pula Allah itu artinya “Yang diper-ilah” “Sesembahan”, bukan proper name seperti Yahwe.

  5. safrinaldi

    Asslm,

    Jika kita tidak dapat merubah dengan tangan kita ataupun tindakan kita maka yang paling ringan adalah dengan hati kita,semoga dengan demikian menunjukan jalan nya kepada hamba nya yang lemah ini

  6. orangbodoh

    RI adalah Negara Kesatuan ya bung …. mbok jangan mengkotak2kan Indonesia dengan isu2 agama.

    jadilah umat muslim yang SIAP jadi warga negara Republik Indonesia dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika – nya.

  7. hehehehe.. aturan agama ternyata dianggap lebih rendah dari aturan yang dibuat manusia 😛

    keblinger

  8. bayu ribut

    Indonesia itu kan Nusantara(penggabungan antara pulau-pulau), Punya Ras dan Agama yang berbeda,. jika melihat dari sudut pandang NKRI mbok zow jangan dikotak-kotakkan Nasionalisme dan Agama itu,. But, , , Indonesia kan bukan negara agama dan komunis,. tapi hendaknya sebagai dasar, syariat islam patut untuk dijalankan sebagai dasar hidup.

    GIMANA ? ? ?

    Pas Mwantab to , , ,

  9. sato Ichi

    perlu disadari bahwa sebagai seorang Presiden maupun wakil Presiden tidaklah bermasalah bila mengucapkan awal pembukaan pidato menggunakan bahasa daerah dimana mereka berada.
    orang orang islam, kong hu chu, nasrani, budha dan lainnya bila ke saudi arabia memangnya berbahasa apa? boleh juga kan.
    saya sarankan soal pemakaian bahasa janganlah dipermasalahkan.\

  10. bukan nama muslim tapi muslim ..??

    Sekarang kalo baca article2 yg berbau agama, kenapa kentel sekali ya kerasnya dan fanatiknya, buat jadi sedikit memicu urat nadi.. Hmm.. biar ajalah mas bro mau dia pake emas ato tidak itu urusan dia dengan Alloh SWT, yang penting mas bro sendiri sudah melaksanakan sebaik2nya belum ajaran(agama) yg mas yakini kebaikannya itu?

    *agamu agamu, agamaku agamaku*, biar sajalah mas ga usah diperuncing, pusing saya ngebacanya, masih aja ada perkompor2an.. Saya rasa kalau Yang maha Kuasa melihat sesama umat manusianya hidup rukun, tidak mencelakai sesama umat manusia, Pasti Beliau tersenyum 🙂

    Bagi saya agama itu bukan identitas tapi itu adalah iman.

  11. anastasya

    wah spti itu dipermasalahkan. kecil sekali pola pikir anda

  12. punakawan

    Walah…… gitu aja koq repot.

    Lebih banyak yang harus diurus dan ada yang lebih penting daripada ngurusin yang beginian

  13. gambreng

    sy menilai wapres Boediono berbicara dlm konteks sosiohumanis hablum minnanas bukan dlm batin dan agama beliau

  14. Mbah Kung anto

    Assalamualaikum, salam sejahtera, Om Swastiastu

    Saya sedikit tersenyum membaca tulisan sdr Budiono,,

    Anda bernama “Budiono”
    Seandainya anda punya kakan benama Wati, bolehkah ku panggil anda dgn sebutan hai adiknya mbk Wati,,,
    Ayah anda benama Irawan, kdg anda di panggil putera pak Irawan,,,

    Lalu apa bedanya, jika memanggilNya, Allah, Tuhan, Sang Rahman, Sang Khalik, Hyang Widhi, Sang Pencipta,,

    Sama kan mas,,,

Leave a Comment