Menuju Generasi Tiada Hari Tanpa Al-Qur'anPosts RSS Comments RSS

 

DigitalMarkReader - Pembuat dan Pemroses LJK


Negara butuh biaya operasional, segala cara ditempuh oleh pemerintah untuk menutupi biaya tersebut. Ada yang strategis, yaitu melalui industri pertambangan, komunikasi, transportasi dan penyediaan energi, namun tidak sedikit pula pendapatan haram yang legal, yang dibenarkan ketika dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan dunia namun haram bila ditinjau dari sisi Islam. Sungguh berat ancaman siksaan yang akan diterima para pemimpin kita di akhirat kelak, kita berlindung kepada Allah dari adzab sedemikian.

  1. Uang Riba
    Setiap pemilik tabungan di bank konvensional, tentu akan mendapatkan bunga. Bila tabungan tersebut di atas Rp 7.500.000, maka pada setiap bunga yang timbul dikenakan pajak 20%. Pajak bunga tersebut diambil dan dikelola oleh negara. Ada sekian banyak orang kaya di Indonesia yang punya milyaran bahkan trilyunan rupiah di tabungannya. Mereka menyimpan uang di bank konvensional, dan tentu bunganya pun tidak sedikit. Bukan cuma bunganya, pemerintah sendiri sebagai pemilik beberapa bank konvensional pelat merah juga mendapatkan untung luar biasa dari industri perbankan konvensional. Selain itu, dikenal pula instrumen investasi berupa surat utang negara dan obligasi negara ritel yang menjanjikan bunga yang cukup tinggi.Bagi muslim, bunga adalah riba, dan riba itu haram untuk dikonsumsi. Bila bunga riba saja haram, apalagi dengan pajak yang diambil dari bunganya. Demikian pula diharamkannya keuntungan bank-bank pemerintah yang masih konvensional. Ironis sekali, karena pajak bunga dan keuntungan industri perbankan tersebut katanya digunakan untuk membiayai gaji guru!

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
    (QS. Al-Baqarah : 278-279)

  2. Uang Miras
    Minuman keras adalah perusak generasi. Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ternyata tidak punya aturan yang melarang peredaran minuman keras karena keharamannya. Peredarannya hanya dilarang bila belum mendapat izin. Izin bernama cukai tersebut dapat dibeli oleh penyalur dan pembuat miras. Sebagian dari cukai haram itu kemudian digunakan untuk membayar gaji wakil rakyat, gaji presiden, gaji menteri, gaji PNS serta gaji TNI dan Polri!

  3. Uang Rokok
    Rokok dapat merusak kesehatan, tulisan itu tertera di iklan maupun bungkus rokok itu sendiri. Tidak ada pecandu narkoba yang tidak merokok. Saking pintarnya perokok mencari-cari alasan untuk merokok, pujangga Taufik Ismail menyebut rokok dengan julukan tuhan sembilan centi.

    Tidak ada orang yang kaya karena merokok. Yang terjadi adalah pemilik pabrik rokok di Indonesia selalu menjadi urutan atas dalam daftar orang terkaya. Pita cukai rokok adalah bukti bahwa pemerintah juga mendapatkan uang dari tiap bungkus rokok yang terjual. Ketika Muhammadiyah tegas mengharamkan rokok, semakin bertambahlah keyakinan kita bahwa pemerintah mendapatkan uang dari barang haram. Ironisnya lagi, uang cukai rokok itulah yang digunakan untuk membangun rumah sakit, membayar gaji dokter serta tenaga kesehatan dan subsidi obat.

Harta adalah cobaan yang berat. Pertanyaan tentang harta selalu 2 macam. Dari mana diperoleh, dan ke mana dibelanjakan. Bila sumber pendapatan negara ternyata dikotori oleh uang haram, keberkahan Allah SWT akan jauh dari bayangan. Kita perlu pemimpin dan pembuat undang-undang yang paham mengenai Islam secara menyeluruh dan pentingnya pengelolaan keuangan negara yang mengundang keberkahan, bukan pemimpin yang dididik oleh Amerika dengan paham liberalnya.

Pemerintah Kota Batam saja sudah mulai mencanangkan akan memungut pajak untuk setiap transaksi di lokalisasi pelacuran. Mungkin sebentar lagi pemerintah daerah yang lain juga akan memungut pajak daerah dari tempat perjudian. Kenapa tidak sekalian pajak perampok, pajak koruptor, dan pajak pembunuh? Apa kata akhirat?

Share

6 Responses to “Dibiayai Dari Uang Haram, Bagaimana Indonesia Mau Dapat Berkah?”

  1. on 17 May 2010 at 3:42 pmMartin M. Baihaqi

    Wacana diatas semoga dapat mengingatkan kita agar bisa mengambil inisiatif yang jauh lebih baik dan bermanfaat bagi kita semua…

  2. on 18 May 2010 at 6:23 amDevid Hardi

    Jangan lupa, praktik riba tidak hanya pada Bank Konvensional. Ada fiat money, FRS dan beberapa “masalah perbankan” lainnya yang masih tetap dipraktekan oleh Bank “Syariah”

  3. on 23 Oct 2010 at 6:12 pmbusana muslim

    masalahnya dari ekonom islam ataupun media islam kurang gencarmelakukan sosialisasi ekonomi islam. Akibatnya rakyat awam tidak banyak yg tahu dgn uang riba dan semacamnya dan akhirnya menganggapnya mjd sesuatu yg ‘biasa’

  4. on 02 Jun 2011 at 9:49 amBackToIslamWay

    ya mari kita mulai dari diri sendiri dan lingkungan kecil di sekitar kita. berusaha lepas dari sistem Riba yang sudah menguasai perekonomian. salah satu solusi yang terbaik adalah kembali ke Dinar dan Dirham. http://www.wakalanusantara.com

    menciptakan pasar yang menggunakan sistem nilai tukar tersebut dan dengan sistem trading barter juga…

    setidaknya usaha-usaha seperti ini adalah bagian dari perjuangan dan bentuk jihad di Jalan Allah.

    wAllahu ‘alam.

  5. on 25 Jun 2011 at 7:39 amrosnani said

    ketidakpopuler/familiarnya alqur,an di dunia pendidikan karena muatan pendidikan kita tidak berbasic pada alqur’an khususnya sekolah umum,begitu juga ditingkat perguruan tinggi
    sudah saatnya pribadi-pribadi yang mencari jatidiri mengisi polapikir dengan alqur”an sehingga alqurlan mewujud dlm hidup
    ,begitu juga dengan permasalahan ekonomi khususnya umat islam merujuk pada alqur’an dan hadist,ayo kita mulai diri kita juga keluarga
    semoga kebangkitan alqur’an menjadi jalan keluar dari permasalahan kita amien

    wassallam

  6. on 06 Dec 2011 at 8:33 amrahmad

    fenomena semacam ini akan kerap terjadi pada negara yang menerapkan system diluar Islam,walaupun mayoritas warganya muslim. karena populasi ini tidak menjadi penentu (subjek) dari berlakunya system melainkan objek dari padanya. solusi dari semua itu adalah penggalangan seluruh potensi diri dalam rekonstruksi negara yang berbasis akan system Islam di Indonesia

Leave a Reply

Rumah Scanner